Dutaswara info—Jenis music yang satu ini memiliki daya
magnet yang begitu kuat di kalangan penggemarnya. Komunitas pecinta aliran
music ini banyak menyebar diipelosok tanah air. Karena diminati Radio Dutaswara
102.1 FM menghadirkan program music
special Tarling Pasundan bersama penyiar Lilis setiap hari Jumat pukul 15.30 –
17.00 Wib. Untuk lebh mengenal dekat jenis music Tarling berikut sekilas sejarah
munculnya kesenian music Tarling.
Tarling adalah
salah satu jenis musik yang populer di wilayah pesisir pantai utara (pantura)
Jawa Barat, terutama wilayah Indramayu dan Cirebon. Nama tarling diidentikkan
dengan nama instrumen itar (gitar) dan suling (seruling) serta istilah Yen wis mlatar gage eling (Andai banyak berdosa segera
bertaubat).
Asal-usul tarling mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa
Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu.[butuh rujukan] Alunan gitar dan suling bambu yang
menyajikan musik Dermayonan dan Cerbonan itu pun mulai mewabah sekitar dekade
1930-an.
Kala itu, anak-anak muda di berbagai pelosok desa di Indramayu
dan Cirebon, menerimanya sebagai suatu gaya hidup. Trend yang disukai dan
populer, di jondol atau ranggon* anak muda suka memainkannya, seni musik ini
mulai digandrungi.
Pada 1935, alunan musik tarling juga dilengkapi dengan kotak
sabun yang berfungsi sebagai kendang, dan kendi sebagai gong. Kemudian pada
1936, alunan tarling dilengkapi dengan alat musik lain berupa baskom dan
ketipung kecil yang berfungsi sebagai perkusi.
![]() |
| Lilis |
Tapi satu hal yang pasti, seni tarling saat ini meskipun telah
hampir punah. Namun, tarling selamanya tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah
masyarakat pesisir pantura. Dikarenakan tarling adalah jiwa mereka, dengan ikut sawer keatas panggung atau sekedar melihatnya,
dan mendengarnya seolah mampu menghilangkan beratnya beban hidup yang
menghimpit. Lirik lagu maupun kisah yang diceritakan di dalamnya, juga mampu
memberikan pesan moral yang mencerahkan dan menghibur. (disarikan dari berbagai
sumber)







0 komentar:
Posting Komentar