Dutaswara info—Sebagai persembahan
bagi Soneta Grup Radio Dutaswara 102.1 FM mempersembahkan program SONETA
BERGEMA setiap hari Jumat Pukul 14.00 Wib – 15.30 Wib. Program yang dipandu
rekan penyiar Meliana dikemas khusus
untuk memenuhi permintaan penggemar Soneta Grup yang ada di Provini
Lampung. Berikut sedikit sejarah perjalanan pembentukan Soneta Grup.
Adalah seorang Irama, putra dari
seorang tokoh pejuang Nasional Raden Burdah Anggrawirya dan pasangan Tuti
Juariah yang dilahirkan di Tasikmalaya pada tanggal 11 Desember 1947. Irama
tumbuh dalam keluarga yang mencintai kesenian. Dari keluarga inilah Irama
mendapatkan bakat seni yang kelak menjadikannya sebagai superstar musik dangdut
dengan menyandang nama Rhoma Irama dan Soneta Group.
Irama (kemudian memakai nama Oma
Irama) mengawali karirnya sebagai penyanyi lagu-lagu pop baik Pop dengan bahasa
Sunda maupun Pop berbahasa Indonesia. Sepanjang karir didunia Pop tersebut ia
terlibat bergabung dengan beberapa Group Band seperti D’Galaxi, Gayhand,
Tornado, dll.
Kesuksesan sebagai seorang penyanyi
belum berhasil diraih Oma Irama meskipun dengan group-group tersebut ia talah
mengeluarkan beberapa album Piringan Hitam. Meskipun begitu pada tahun 1972 Oma
Irama berhasil mendapat predikat juara pertama dalam ajang Festival Penyanyi se
Asia (Asian Pop Singer Festival) yang diselenggaraakan di Singapura dengan
membawakan lagu I would have Nothing milik Tom Jones.
Setelah berkecimpung dengan group
band, Oma Irama terjun menjadi penyanyi dari musik irama melayu yang pada
akhirnya mendamparkan Oma Irama pada group orkes melayu Chandraleka, El Sitara,
Chandralela hingga OM Purnama. Orkes Melayu saat itu cenderung terpengaruh
besar dari musik melayu Malaysia dan musik India. Untuk Malaysia P. Ramlee
adalah salah satu idiom yang diikuti, sedangkan dari India adalah M. Ravi dan
Latta Mangeshkar. Kesamaan ini bisa didengar pada musik dan lagu-lagu Oma Irama
pada debut awalnya bernyanyi bersama Ellya Khadam seperti pada Album In dan
Dip, Tukang Ramal, Jenggo dan lainnya.
Kesempatan bermain musik di dua kutub
yang berbeda itu secara tidak langsung semakin mengasah kemampuan Oma Irama
yang memang sejatinya sudah diberikan bakat dibidang seni oleh Allah
SWT. Dari pengalaman-pengalaman tersebut Oma Irama merasa tidak nyaman
bila harus terus menjadi penyanyi lepas dari beberapa group orkes melayu.
Berbekal ilmu yang telah digamitnya sejak bergabung dengan group band maupun
melayu ia membentuk group musik sendiri dengan nama SONETA. Meskipun belum memiliki
personil tetap Oma Irama tetap memakai Soneta dalam album rekamannya dengan
memakai bantuan beberapa personil OM Purnama sebagai pemusik di album tersebut.
Awal sejarah bergulir.
Soneta mulai dikenal dan rutin
mengeluarkan album rekaman dengan mengikutsertakan Elvy Sukaesih, penyanyi yang
telah dikenal Oma Irama sejak bernaung dengan OM Purnama, pimpinan Awab Haris
yang lebih dikenal sebagai Awab Purnama.
Duet Oma Irama dan Elvy Sukaesih
sontak menggegerkan dunia musik melayu dengan lagu-lagu hitnya. Dengan
kesuksesan tersebut Oma Irama merasa perlu untuk membentuk group permanent
dengan personil tetap. Mulailah Oma bergerilya mencari pemain musik yang akan
ditempanya untuk membesarkan Soneta. Nasir, Hadi, Herman, Kadir, Ayub, Riswan
dan wempy adalah orang-orang yang dipilih oleh Oma untuk bergabung bersama
Soneta. Oma membuat cetak biru musik Soneta yang akan berbeda dengan warna
musik orkes melayu lainnya. Sebuah keberanian ditampilkan Oma tanpa sedikitpun
rasa takut dengan penampilan group orkes melayu yang sudah terkenal, termasuk
OM Purnama sendiri.
Dibawah bendera Remaco Soneta
mengeluarkan beberapa album yang semakin melejitkan nama Oma Irama, Elvy
Sukaesih dan OM Soneta. Tawaran show dari berbagai kota di Tanah Air memenuhi
jadwal Soneta. Hampir semua lagu yang dibawakan Soneta menjadi hit, mandul,
cinta abadi, mawar merah, pelangi, dangdut, adalah contoh beberapa lagu hit
Soneta yang hingga hari ini masih menjadi hit.
Tahun 1975 Oma Irama membuat gempar
dengan keluar dari bendera Remaco dan bergabung dengan Yukawi. Sebuah keputusan
berani mengingat saat itu Remaco adalah perusahaan rekaman musik terbesar di
Indonesia dengan barisan griup dan penyanyi top seperti Koes Plus, Bimbo,
Favourites, Eddy Silitonga dan banyak lagi artis-artis top lainnya.
Dibawah Yukawi, Soneta merilis album
perdana dengan judul Begadang. Dan selanjutnya berturut-turut ditahun yang sama
merilis Volume 2 (Pensaran) dan Volume 3 (Rupiah). Hengkangnya Oma Irama dan
Soneta ke Yukawi menimbulkan sengketa besar. Masing-masing pihak merasa berhak
atas kontrak dengan Oma Irama dan Soneta. Sengketa ini kelak sampai menuju meja
hijau dan perseteruan tetap berlanjut hingga tahun 1979 saat Soneta merilis
album Volume 9 (Begadang 2).
Desember 1975 Oma Irama pegi
menunaikan ibadah haji. Sebuah kegiatan spiritual yang saat itu sepertinya tabu
dilakukan oleh seorang pemusik ataupun penyanyi. Betapa tidak, dunia musik saat
itu, dimanapun adanya, dipenuhi oleh pengaruh obat terlarang, minuman keras,
ganja, sex bebas dan hal-hal kegiatan hura-hura lainnya.
Begitupun dengan Soneta, harus
diakui, semua personil Soneta saat itu adalah pecandu minuman keras dan ganja.
Seorang personil pernah bercerita bahwa Soneta pernah tampil di Tanjung Priok
dengan bayaran sebaskom (wadah untuk menampung air) ganja. Soneta tidak mau
tampil bila tidak ada bir yang disediakan oleh panitia. Begitupun saat rekaman,
barang dan minuman haram itu kerap ikut hadir di studio. Bahkan lagu Nusa Indah
konon terinspirasi dari kerinduan akan daun ganja (wallahu alam).
Kepergian Oma ke tanah suci membawa
angin segar bagi Soneta untuk melangkah kearah yang lebih baik. Oma
mengharamkan barang-barang terlarang tersebut bagi dirinya dan semua personil
Soneta.Keputusan yang sangat mengagetkan semua personil. Penampilanpun berubah.
Oma memangkas rambut gondrongnya dengan tetap menyisakan jenggot dan
cambangnya, penampilan dipanggungpun berubah dengan mengunakan jubah/gamis dan
surban. Penampilan Oma ini pernah dikritisi ulama karena merasa Oma melecehkan
pakaian yang biasa digunakan seorang imam dan khotib di masjid untuk bernyanyi
dan berjoget diatas panggung bersama biduan wanita yang tetap memakai kostum
ketat yang menonjolkan lekuk tubuh.
Ditahun ini pula kebersamaan duet Oma
dan elvy harus berakhir. Elvy keluar dari Soneta karena ada ketidakcocokan
dengan prinsip yang ditetapkan oleh Oma Irama. Sebagai pengganti Elvy, Oma
memilih Rita Sugiarto, seorang penyanyi Pop dari Semarang. Bersama Rita Soneta
merilis album Soneta Volume 4 (darah Muda), Volume 5 (Musik) dan selanjutnya
Volume 6 ( 135 juta). Sesuai ikrarnya untuk menjadikan Soneta sebagai The Sound
of Moeslem, Oma, yang kemudian merubah namanya menjadi Rhoma Irama mulai
menyelipkan lagu-lagu bermuatan dakwah seperti lagu Kematian (Volume 4), Lapar
dan Nyanyian Setan (Volume 5) dan Lidah dan Pemarah (Volume 6).
Tahun 1976 Rhoma harus merelakan
Kadir dan Herman keluar dari Soneta. Ketegasan Rhoma akan prinsip untuk
meninggalkan minuman keras dan narkoba bagi seluruh personil Soneta tampaknya
belum bisa diterima sepenuhnya oleh Herman dan Kadir. Secara sembunyi-sembunyi
keduanya masih sering mengkonsumsi minuman keras tersebut. Mereka keluar pada
saat Soneta show di Jawa timur hingga akhirnya<span> </span>untuk
kewajiban dua show berikutnya formasi berubah, Rhoma Irama tampil sebagai
pemain bass dan menyanyi, sementara gendang dimainkan oleh Ayub.
Untuk menggantikan Kadir dan Herman,
Rhoma Irama memilih dua orang pemusik dari Group Band Gavilas dari Banyuwangi
yaitu Pongky dan Chovif. Pongky, selanjutnya dikenal sebagai Popong memainkan
bass, sedangkan Chovif yang drummer bertugas memainkan gendang menggantikan
Kadir.
Suntikan dua musisi rock ini sedikit
banyak mempengaruhi penampilan musik Soneta. Ini bisa dilihat pada album
berikutnya yaitu Soneta Volume 7 (Santai). Rhoma menyebut album ini sebagai
funky dangdut. Hal ini begitu kentara pada lagu Santai yang menampilkan corak
musik berbeda dengan musik pada lagu-lagu sebelumnya. Tak lupa Rhoma kembali
menyelipkan lagu dakwah di volume ini yaitu lagu Keramat dan Banyak Jalan
menuju Roma.
Ditahun ini pula Rhoma Irama dan
Soneta merambah dunia perfilman. Berturut-turut Rhoma tampil membintangi film
Penasaran dan Gitar Tua. Pada setiap film tersebut dirilis pula album
Soundtrack filmnya. (disarikan dari berbagai sumber)






0 komentar:
Posting Komentar