Jumat, 28 Oktober 2016

Campur Sari setiap hari pukul 12.30 - 14.00 Wib

Dutaswara info—Dari berbagai sumber menceritakan bahwa sejarah musik campursari  itu lepas dari kehidupan  masyarakat jawa yang sudah mengenal bentuk kesenian kurang lebih 2000-1000 tahun sebelum masehi, yang merupakan akhir dari zaman mezolitikum.

Dan apabila kita berbicara tentang kesenian dari jawa, tentu banyak jenisnya. Seperti halnya seni tari, seni musik dan yang lainnya. Salah seorang musikologis asal belanda yang terkenal bernama Jaap Kunst, mengumpulkan bahan untuk karyanya yang mendalam mengenai musik jawa selama akhir tahun 1910 dan 1920-an.

Di tahun 1934 ia pulang ke negeri belanda dan menerbitkan dua jilid buku mengenai teori dan teknik musik jawa. Salah satu musik yang berasal dari daerah Jawa adalah musik Campursari. Musik ini merupakan karya anak bangsa.

Campursari sempat menundang pro dan kontra dari berbagai kalangan. Ada yang berpendapat bahwa musik campursari dapat merusak tradisi, namun di lain sisi berpendapat bahwa inovasi dalam musik campursari sangat diperlukan agar dapat diterima oleh bebagai kalangan, baik di Indonesia maupun juga dalam tingkat mancanegara.

Campursari berasal dari dua kata yaitu campur dan sari, campur berarti berbaurnya instrumen musik baik dari alat musik tradisional maupun alat musik modern, sedangkan sari dapat berarti eksperimen yang menghasilkan jenis irama yang lain daripada yang lain.

Istilah campursari sendiri dikenal di awal tahun 1970-an, saat itu RRI stasiun Surabaya memperkenalkan acara baru, yaitu lagu-lagu yang diiringi oleh alat musik berskala pentatonis dan diatonis.

Campursari merupakan salah satu bentuk kesenian jawa dari perkawinan antara musik modern dengan musik etnik. Dalam sejarah musik campusari, musik ini berangkat dari musik keroncong asli langgam, musik campursari masih menggunakan dasar-dasar keroncong. Ada yang cenderung ke musik karawitan dan ada juga yang cenderung ke musik keroncong.

Dalam sejarah musik campursari, musik campursari merupakan perpaduan antara sebuah tradisi dan inovasi. Pernyataan ini dilihat dari pandangan tradisi, bahwa musik campursari menggunakan alat musik tradisional seperti gamelan dan lain sebagainya, kemudian lirik yang digunakan dalam musik campursari menggunakan bahasa daerah Jawa dan terkadang dapat kita lihat para penyanyinya masih menggunakan pakaian daerah.

Dan dari sudut pandang inovasi, terlihat bahwa perpaduan penggunaan alat musik tradisional dengan alat musik modern seperti Keyboard, gitar, bass elektrik dan lain sebagainya menghasilkan satu buah inovasi yang baru. Sehingga bisa dikatakan musik campursari memliki aliran yang khas, yaitu perpaduan antara tradisi dan inovasi.
Dan perlu kita ingat, musik campursari merupakan salah satu aset budaya negara Indonesia, musik campursari memang pernah mengalami kejayaan, namun kini musik campursari memang sedikit dilupakan karena kepopuleran musik modern.

Sebagai warga negara Indonesia yang baik, terutama untuk kaum muda jadi tidak ada salahnya kita menjaga dan melestarikan budaya warisan nenek moyang kita, salah satunya adalah musik campursari. Dan untuk itu dutaswara 102.1 FM menghadirkan program khusus Campur Sari Pilihan yang dipandu penyiar Lilis setiap harinya mulai pukul 12.30 – 14.00 WIB.  (disarikan dari berbagai sumber)

0 komentar: