Jumat, 28 Oktober 2016

Dendang Lagu Khas Lampung Setiap Hari Sabtu Pukul 15.30 - 17.00 Wib

Dutaswara info—Untuk melestarikan dan memasyarakatkan lagu lagu khas daerah Lampung Radio Dutaswara 102.1 FM setiap hari Sabtu pukul 15.30 – 17.00 Wib. Acara yang dikemas apik oleh penyiar Lilis sangat diminati pendengar Dutaswara. Berikut kilasan sejarah kiprah lagu daerah Lampung yang dikutip dari berbagai sumber.

 Seperti Jawa, Sunda, Batak, orang Lampung, khususnya Lampung Pesisir, pun patut bangga akan musisi daerahnya. Seperti halnya Jawa, Sunda, Batak, dll. di Lampung pun banyak seniman daerah yang menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu berbahasa daerah Lampung, terutama Lampung Pesisir.

Musik dan lagu Lampung, khususnya Lampung Pesisir, ada tiga jenis: Gitar Tunggal atau Peting Tunggal, Orkes Lampung, dan Dangdut Lampung. Musik dan lagu Lampung Gitar Tunggal, atau Peting Tunggal,  dan Orkes Lampung adalah kesenian khas Lampung, yang hanya terdapat di Lampung.

Musik dan lagu Gitar Tunggal, atau Peting Tunggal, hanya menggunakan gitar akuistik sebagai instrument musiknya. Tapi tampaknya gitar yang dimainkan bukanlah gitar akuistik biasa, tapi gitar yang badannya berbentuk seperti terong dibelah. Petikan gitar dan lolongan penyanyinya terdengar seperti puisi yang diberi musik. Mungkin ini adalah bentuk musikalisasi puisi dalam bahasa Lampung.

Orkes Lampung, sebagaimna orkes pada umumnya, menggunakan alat musik dalam kelompok kecil, dengan ciri khasnya pada tabuhan gendang. Sekilas Orkes Lampung terdengar seperti irama melayu, dan sedikit menyerupai dangdut. Tapi Orkes Lampung bukanlah orkes melayu atau dangdut. Orkes Lampung punya taste tersendiri yang berbeda dengan orkes melayu dan dangdut.

Syair lagu-lagu lampung umumnya bercerita tentang cinta yang platonis dengan sentuhan yang puitis. Dan sebagian kecil berisi petuah-petuah atau nasehat untuk menjalankan kehidupan dengan layak, dengan bahasa yang sering vulgar.

Beberapa lagu menyindir para pengangguran yang luntang-lantung setiap hari, tiada kerjaan, tapi karena menggunakan bahasa sehari-hari yang memang sudah sering diucapkan, tidak ada pengangguran yang merasa tersinggung. Mereka bahkan menyanyikannya dengan riang gembira, seperti menertawakan diri sendiri.

Lagu-lagu tentang cinta sangat-sangat platonis, low profile, sama sekali tidak menunjukkan hasrat ingin memiliki yang menggebu-gebu. Tidak ada kata-kata vulgar dalam syairnya, yang mengajak melakukan sentuhan secara fisik. Tidak ada kata seperti peluk, cium, belai seperti yang sering terdapat dalam syair lagu berbahasa Indonesia.

Beberapa syair lagu cinta bahkan sangat bijaksana, penting untuk diteladani oleh orang yang sedang bercinta. Beberapa syair lagu cinta berisikan ketegaran dan ketabahan hati orang yang ditinggalkan; kepasrahan, rasa tahu diri, dan tetap mendo’akan bekas kekasihnya agar mendapatkan kebahagiaan dengan yang lain. Tidak ada kata-kata meratapi, tidak ada sakit hati, tidak ada dendam. Sungguh sebuah penyelesaian cinta yang inspiratif.

Jka dipikirkan lebih dalam lagu-lagu Lampung, khususnya Peting Tunggal, dan Orkes Lampung adalah karya seni yang bernilai tinggi, yang bisa disejajarkan dengan karya musisi-musisi nasional, bahkan musisi dunia. Syair dan melodi lagu-lagu Lampung punya keistimewaan tersendiri yang tidak bisa dianggap remeh.

Sejarah Lagu Lampung mungkin berawal dari tahun 1970-an, ketika A. Roni HS menggebrak dunia permusikan Lampung dengan lagu Peting Tunggal-nya yang berjudul Mati Kajong. Kemudian menyusul sukses artis-artis lain seperti Arifin dan Latief M dengan Dangdut Lampung-nya.

Belakangan, muncul Hila Hambala yang berjaya dengan musik jenis Orkes Lampung. Hila Hambala sangat solid dan pantas disebut sebagai superstar Lagu Lampung mengingat banyak sekali lagu-lagu ciptaannya yang meledak di pasaran, seperti Andahmu, Dipulaju, Hanggum, dll.


Maraknya lagu Lampung tidak pula lepas dari sumbangsih para penyanyinya, seperti Hi Wastabagjaya, B.A., Nurbaiti, Shera Dhiba, Atiek Nurmala, Ely Martha, dll. (disarikan dari berbagai sumber)

0 komentar: