Dutaswara
info—Untuk melestarikan dan memasyarakatkan lagu lagu khas daerah Lampung Radio
Dutaswara 102.1 FM setiap hari Sabtu pukul 15.30 – 17.00 Wib. Acara yang dikemas
apik oleh penyiar Lilis sangat diminati pendengar Dutaswara. Berikut kilasan
sejarah kiprah lagu daerah Lampung yang dikutip dari berbagai sumber.
Seperti Jawa, Sunda, Batak, orang Lampung,
khususnya Lampung Pesisir, pun patut bangga akan musisi daerahnya. Seperti
halnya Jawa, Sunda, Batak, dll. di Lampung pun banyak seniman daerah yang
menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu berbahasa daerah Lampung, terutama
Lampung Pesisir.
Musik
dan lagu Lampung, khususnya Lampung Pesisir, ada tiga jenis: Gitar Tunggal atau
Peting Tunggal, Orkes Lampung, dan Dangdut Lampung. Musik dan lagu Lampung Gitar
Tunggal, atau Peting Tunggal, dan Orkes Lampung adalah kesenian khas
Lampung, yang hanya terdapat di Lampung.
Musik
dan lagu Gitar Tunggal, atau Peting Tunggal, hanya menggunakan gitar akuistik
sebagai instrument musiknya. Tapi tampaknya gitar yang dimainkan bukanlah gitar
akuistik biasa, tapi gitar yang badannya berbentuk seperti terong dibelah.
Petikan gitar dan lolongan penyanyinya terdengar seperti puisi yang diberi
musik. Mungkin ini adalah bentuk musikalisasi puisi dalam bahasa Lampung.
Orkes Lampung,
sebagaimna orkes pada umumnya, menggunakan alat musik dalam kelompok kecil,
dengan ciri khasnya pada tabuhan gendang. Sekilas Orkes Lampung terdengar
seperti irama melayu, dan sedikit menyerupai dangdut. Tapi Orkes Lampung
bukanlah orkes melayu atau dangdut. Orkes Lampung punya taste tersendiri
yang berbeda dengan orkes melayu dan dangdut.
Syair
lagu-lagu lampung umumnya bercerita tentang cinta yang platonis dengan sentuhan
yang puitis. Dan sebagian kecil berisi petuah-petuah atau nasehat untuk menjalankan
kehidupan dengan layak, dengan bahasa yang sering vulgar.
Beberapa
lagu menyindir para pengangguran yang luntang-lantung setiap hari, tiada
kerjaan, tapi karena menggunakan bahasa sehari-hari yang memang sudah sering
diucapkan, tidak ada pengangguran yang merasa tersinggung. Mereka bahkan
menyanyikannya dengan riang gembira, seperti menertawakan diri sendiri.
Lagu-lagu
tentang cinta sangat-sangat platonis, low
profile, sama
sekali tidak menunjukkan hasrat ingin memiliki yang menggebu-gebu. Tidak ada
kata-kata vulgar dalam syairnya, yang mengajak melakukan sentuhan secara fisik.
Tidak ada kata seperti peluk, cium, belai seperti yang sering terdapat dalam
syair lagu berbahasa Indonesia.
Beberapa
syair lagu cinta bahkan sangat bijaksana, penting untuk diteladani oleh orang
yang sedang bercinta. Beberapa syair lagu cinta berisikan ketegaran dan
ketabahan hati orang yang ditinggalkan; kepasrahan, rasa tahu diri, dan tetap
mendo’akan bekas kekasihnya agar mendapatkan kebahagiaan dengan yang lain. Tidak
ada kata-kata meratapi, tidak ada sakit hati, tidak ada dendam. Sungguh sebuah
penyelesaian cinta yang inspiratif.
Jka
dipikirkan lebih dalam lagu-lagu Lampung, khususnya Peting Tunggal, dan Orkes
Lampung adalah karya seni yang bernilai tinggi, yang bisa disejajarkan dengan
karya musisi-musisi nasional, bahkan musisi dunia. Syair dan melodi lagu-lagu
Lampung punya keistimewaan tersendiri yang tidak bisa dianggap remeh.
Sejarah
Lagu Lampung mungkin berawal dari tahun 1970-an, ketika A. Roni HS menggebrak
dunia permusikan Lampung dengan lagu Peting Tunggal-nya yang berjudul Mati Kajong. Kemudian menyusul sukses artis-artis lain
seperti Arifin dan Latief
M dengan Dangdut
Lampung-nya.
Belakangan,
muncul Hila Hambala yang berjaya dengan musik jenis Orkes Lampung. Hila Hambala
sangat solid dan pantas disebut sebagai superstar Lagu Lampung mengingat banyak
sekali lagu-lagu ciptaannya yang meledak di pasaran, seperti Andahmu, Dipulaju, Hanggum, dll.
Maraknya lagu Lampung
tidak pula lepas dari sumbangsih para penyanyinya, seperti Hi Wastabagjaya, B.A., Nurbaiti, Shera Dhiba, Atiek Nurmala, Ely
Martha, dll.
(disarikan dari berbagai sumber)






0 komentar:
Posting Komentar